<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!-- generator="wordpress/2.3.3" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>l@sk@r comic</title>
	<link>http://fachryan.dagdigdug.com</link>
	<description>Just another dagdigdug.com weblog</description>
	<pubDate>Sun, 11 May 2008 05:40:49 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.3.3</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Komik, Karikatur dan Kartun &#160;&#160; </title>
		<link>http://fachryan.dagdigdug.com/2008/05/11/komik-karikatur-dan-kartun/</link>
		<comments>http://fachryan.dagdigdug.com/2008/05/11/komik-karikatur-dan-kartun/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 May 2008 05:40:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fachryan</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fachryan.dagdigdug.com/2008/05/11/komik-karikatur-dan-kartun/</guid>
		<description><![CDATA[KOMIK, karikatur dan Kartun (selanjutnya disebut K-3) merupakan salah satu bentuk imajinasi yang diaktualisasikan dalam rangka gambar. Proses pembuatan dari ketiganya secara sederhana: berupa bentuk khayalan baik itu mengenai manusia itu sendiri, hewan, tumbuhan, alam ataupun hal yang tidak terjangkau oleh akal seperti mahluk luar angkasa ataupun gaib sekalipun yang dimediasikan lewat tangan, pulpen/patlot, kertas, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>KOMIK, karikatur dan Kartun (selanjutnya disebut K-3) merupakan salah satu bentuk imajinasi yang diaktualisasikan dalam rangka gambar. Proses pembuatan dari ketiganya secara sederhana: berupa bentuk khayalan baik itu mengenai manusia itu sendiri, hewan, tumbuhan, alam ataupun hal yang tidak terjangkau oleh akal seperti mahluk luar angkasa ataupun gaib sekalipun yang dimediasikan lewat tangan, pulpen/patlot, kertas, cat gambarâ€“walaupun sekarang semuanya bisa dikerjakan langsung lewat media komputerisasi sehingga terbentuk sebuah coretan dalam rangka gambar.</p>
<p>Dengan segala atributnya, ketiga bentuk rangka itu menjadikan K-3 sebagai sebuah seni sastra yang paling â€˜unikâ€™ dan sejenis dibanding dengan seni sastra lain seperti lukisan, patung, drama dan berbagai jenis tulisan: novel, cerpen, puisi dsb.</p>
<p>Mengapa penulis memasukan ketiganya dalam bentuk katagori seni sastra, karena kriteria karya sastra meminjam Goldman (1981:55-74) dalam salah satu esainya, merupakan salah satu bentuk ekspresi pandangan dunia (apapun itu bentuk medianya) secara imajiner dan dalam usahanya mengekspresikan pandangan dunia itu, pengarang bisa menciptakan semesta tokoh-tokoh, objek-objek dan relasi secara bebas. Dengan begitu bisa disebutkan bahwa K-3 merupakan salah satu genre seni sastra yang termodifikasikan lewat gambar, melalui bahasa non-verbal. Dan mereka para animator adalah penciptanya. Dia menuangkan ide-ide segarnya secara bebas, menarik, tentang sesuatu yang belum ada (cita-cita), kontradiktif, misterius, kadang serius dan sekaligus menggelitik tentang hal-hal yang ada di luar dugaan manusia saat itu.</p>
<p>Kadang karenanya (terutama dalam kartun) berbagai discovery bisa diwujudkanâ€”-sekadar contoh, sekarang ini telah berhasil dibuat cairan plasma yang bisa merekat seperti digunakan Spiderman dalam kartunnya, serta berbagai macam alat teknologi seperti dalam film-film kartun yang bernuansa futuristik, di mana itu sekarang sedang diwujudkan.</p>
<p>Bukan itu saja, nilai-nilai tradisi dan budaya yang selama ini tidak dirasa cocok dan mengakar kuat dalam suatu masyarakat (seperti yang tergambar dalam komik ataupun kartun Jepang secara mayoritas), bisa disebutkan sebagai icon dari adanya caunter dalam bentuk gambar itu, terhadap kehidupan budaya yang dijalani. Serta gambar-gambar (coretan tangan) koran ataupun majalah yang sering terlihat dalam bentuk karikatur-karikatur lucu sekaligus kritis (biasanya di halalam atas opini-koran), menandakan masih perlunya eksistensi dari gambar moral ataupun politik terhadap kehidupan realitas yang begitu lemah dan tidak layak kita tiru. Secara keseluruhan, nilai-nilai itulah yang kiranya apabila ditafsirkan akan terus melekat pada setiap komik, karikatur dan kartun di Indonesia dewasa ini.</p>
<p>Namun terlepas dari itu, muncul pertanyaan besar apakah ketiganya mesti memiliki pesan? tentu saja tidak. Kadang K-3 tidak perlu dimaknai apa-apa: sebagai bentuk kreativitas, keterampilan, kesenangan dan luapan hati serta tanpa â€˜rekayasaâ€™ sang animator. K-3 pula hadir begitu saja dibenak para animator untuk diperlihatkan; tanpa dikaitkan dengan masalah teknologi, sosial, politik ataupun budayaâ€“walaupun dibalik ceritanya pasti menggunakan aspek-aspek tadi.</p>
<p>Karena K-3 pertamanya diidentikkan cuma sebatas sebagai sebuah hiburan bagi si Upik. Ataupun cuma wujud kreativitas seseorang untuk memperlihatkan gerak hidup manusia, hewan, tumbuhan yang tergabung dalam alam jagad bumi ini dan Tuhan pada sebuah bentuk imaji: gambar.</p>
<p>Walaupun dalam perkembangannya, memang terasa arah perubahan tujuan dalam pembuatannya, yaitu komsumerisme. Bagaimana perkembangan arus media sekarang yang menyediakan ketiga bentuk gambar itu untuk bersaing dipublikasikanâ€“bukan semata hasil bentuk hiburan diruang yang kosong belaka. Kadang sebagai tindak lanjutnya, bisa diwujudkan dalam bentuk aslinya: seperti mainan-mainan yang sekarang menggejala dikalangan anak-anak. Sebut saja kepanjangan tangan dari itu seperti maraknya film-film kartun Jepang yang mendominasi Indonesia: Bayblade dengan menghasilkan mainan gasingnya, Lets and Go dengan mobil mainan Tamiyanya, Crush Gear dengan mobil tarungnya ataupun sejenis mainan lainnya seperti boneka Pooh dari hasil film Winne and Pooh yang dahulu berhasil mendobrak market mainan dunia dengan mudahnya. Semua itu bisa disebut sebagai mediasi sosialisasi produk dengan menggunakan media kartun sebagai â€˜nabiâ€™nya.</p>
<p>Perkembangan Komik, Karikatur, Kartun di Indonesia </p>
<p>Sekedar mengantarkan sebuah peta ke hadapan pembaca, penulis melihat bahwa sebenarnya â€˜bisnisâ€™ gambar seperti yang diwadahi dalam tiga media di atas untuk di Indonesia sebenarnya tidak atau belum mengalami perkembangan yang cukup serius.<br />
Dimulai dari Komik, sebenarnya tahun 60-an perkomikan di Indonesia pertamanya cukup menjanjkan. Ini terbukti dari hasil yang dibuat oleh komikus Indonesia, seperti oleh Ganes TH dengan â€œSi Buta dari Gua Hantunyaâ€, Indri Sudono dangan â€œPetruk dan garengnyaâ€, Jan Mintaraga dengan komik â€œpercintaannyaâ€, RA Kosasih dengan â€œMahabrata dan Bharatayudhanyaâ€, Wid NS dengan â€œGodam dan karakter wajah Indonesianyaâ€, Djair dengan â€œKutukan Sangkuriangnyaâ€ N.Mintardjar dengan â€œNaga Sastra dan Sabuk Intennyaâ€, Herman Phatirto dengan â€œBende Mataramâ€ dll. merupakan sejumlah komikus perintis Indonesia yang patut dibangggakan hasilnya.</p>
<p>Isi ataupun kualitas cerita dan penyajian dari beberapa komik di atas tidak lah kalah dengan perkomikan dari luar saat ini. Namun karena perkembangan media sekarang ini, baik dari segi penyajian yang menggukan alat komputer, perkomikan Indonesia akhirnya tidak bisa menyaingi derasnya perkembangan zaman. Paling yang sekarang masih bertahan hanya beberapa perkomikan saja di Indonesia. Sebut saja â€œLegenda Sawung Kampret dan Panji Komengâ€ yang digawean oleh Dwi Koen, merupakan salah satu komik berkualitas terakhirâ€“bisa dibilang begituâ€“di Indonesia saat ini. Komik tersebut menurut penulis tergolong serius apabila dibandingkan dengan komik lain (baca komik santai). Majalah Kumkom sebagai sarana sekaligus media komikus dalam negeri yang turut berkiprah menampilkan hasil karyanya merupakan salah satu media terbatas bagi karya-karya komik yang tidak mendapat ruang serius. Dengan munculnya berbagai media komik tersebut diharapkan bisa mewakili terus terpaan angin komikus dalam negri dari luar seperti Jepang. </p>
<p>Berbeda lagi dengan dunia Karikatur, perkembanganya di Indonesia bisa disebut bertimbal balik dengan situasi Komik saat ini. Walaupun kehadiran dunia Karikatur tidak begitu muncul dalam popularitas suatu roduk karya astra, namun dilihat dari segi kuantitas dan kualitas peminat dari Karikatur terutama di setiap Koran sangatlah besar.<br />
G.M. Sudarta sebagai kartunis sekaligus karikaturis di suratkabar Kompas dengan â€œOom Pasikomnyaâ€ merupakan salah seorang yang sampai sekarang ini masih kuat dengan gambar yang sarat oleh pesan, kritik, estetika dan kadar humornya. Dengan karakter tersebut Sudarta lebih familiar menyebut karikatur dengan sebuah doformasi berlebihan atas wajah seseorang, biasanya orang terkenal, dengan â€œmempercantiknyaâ€ melalui penggambaran ciri khas lahiriahnya untuk tujuan mengejek (Prisma, No.5, 1981: 49-53).</p>
<p>Namun sebagai sebuah karikatur, dalam pandangan Sudarta tidak selalu harus hadir dalam bentuk pesan atau kritik, apalagi dalam rangka yang berlebihan. Kalaupun ada, ia menamakannya dengan katagori editorial cartoon yang biasa disebutnya tajuk rencana dalam versi gambar humor. Ini bisa terlihat, menurutnya di tahun 1960-an karikatur T.Sutanto yang terbit di mingguan Mahasiswa Indonesia, Bandung dan di zaman Orba seperti hasil kartunis-kartunis besar (Sanento, Pramono, Priyanto, Tony Tantra, thomas Leonar, Dwi Koendoro, Yuliman, Mariadi S, Keulman, dll.) pernah juga menjadi sorotan: sebagai salah satu kritikan tajam dengan â€œmembunuhâ€ â€™ala senyuman. Jangan dikira perbuatan tersebut tidak menyebabkan hal apa-apa bagi sipembuat karikatur. Tidak lama kita telah dikejutkan dengan penangkapan seorang Pemred Harian Rakyat Merdeka, hanya akibat membuat sebuah karikatur telanjangnya seorang pejabat (Akbar Tanjung) yang dipandang hal tersebut mencemarkan nama baik seseorang. </p>
<p>Oleh sebab itu, seringkali Sudarta memandang bahwa dalam pembuatan karikatur tersebut sang karikaturis jangan terlalu berlebihan yang akhirnya kurang kena sasaran. Sehingga dalam tampilannya bisa mmbuat orang, khususnya yang dikritik dalam gambar merasa terhina ataupun menaruh curiga yang berlebihan.</p>
<p>Etika (baca:kode etik) dalam melakukan kritikan, menurutnya diperlukan pada saat itu agar misi yang dilontarkan sampai dengan selamat dan sejahtra.</p>
<p>Seperti apa yang dalam perkembangannya, karikatur tersebut diperbaharui dengan gaya yang lebih bervariasi. â€œDoyokâ€ contohnya tokoh yang dipakai Keliek Siswoyo, merupakan salah satu bentuk karikatur berjenis komik singkat (dalam satu strip atau panel) yang memiliki ciri khas tersendiri dibanding karikatur produk lama. Doyok ini hadir di harian Pos Kota, dalam kolom khusus â€œLembergarâ€ (Lembaran bergambar Untuk Keluarga) yang meraih ratingnya mencapai tiras tertinggi mencapai 74,9 persen pembaca (Bentara, Kompas 1/11/2002).</p>
<p>Bayangkan, dari sebagian banyak lembaran yang ada di Pos Kota, sebagai harian surat kabar yang bisa mencapai 500.000-600.000 eksemplar pembaca tiap harinya, sebagian besar tertuju pada kolom karikatur buatan Siswoyo ini.</p>
<p>Berbeda dengan Oom Pasikomnya G.M Sudarta, Karikatur Doyok buatan Siswoyo lebih bersipat dialogis yang mengambil setting kebudayaan masyarakat kampung. Dengan gayanya yang khas itu, dia melihat persepsi masyarakat bawah tentang berbagai problema, termasuk masalah politik di Indonesia ini. Dengan begitu ia bisa menetralisir apa yang diharapkan Sudarta dengan kritikan yang tepat guna.</p>
<p>Berbeda lagi dengan komik ataupun karikatur seperti yang dijelakan di atas, Kartun adalah persoalan baru bagi perindustrian film animasi di Indonesia. Perkembangan dunia teknologi informasi, membuat produksi Kartun di Indonesia â€˜lesuâ€™ total dibanding dengan negara lain, Jepang contohnya. Berjamurannya film kartun â€˜asingâ€™ di Indonesia bisa dilihat di TV-TV ataupun dalam bentuk VCD. Penayangannya pun memiliki jadwal tetap (seperti minggu sebagai hari libur keluarga). Sebut saja film Slam Dunk, Lats and Go, Doraemon, Sinchan, Dragon Ball, Inuyasa, Bayblade, Ditektif Conan, dll. merupakan sejumlah kartun Jepan yang mendominasi film animasi di Indonesia di berbagai stasion telivisi. Ini bisa dimengerti karena dengan keterbatasan keterampilan kartunis Indonesia masih pada relatif sederhana.</p>
<p>Ini bisa terlihat bahwa baru pada tahap tema-tema film kartun Indonesia yang baru bisa muncul, seperti dalam cerita-cerita rakyat ataupun legenda masyarakat Indonesia: Sangkuriang, Ketimun Mas, dll. Itu pun belum di dalam pembuatanya masih tetap memerlukan kepandaian edting pihak asing.</p>
<p>Kartun-kartun itu biasanya diangkat dari sketsa Karikatur ataupun Komik yang ditindaklanjuti pada bentuk animasi. Apalagi untuk sekarang, sesuai dengan perkembangan dunia komputerisasi, bentuk animasi kartun semakin komplek yaitu berupa tiga demensi: bentuk khayalan (dari hasil coretan) sekaligus terlihat nyata yang bisa tergabung dalam ruang dimensi manusia.</p>
<p>Tentu saja perkembangan teknologi itu sulit dijangkau pembiayaannya, selain mengadakan kerjasama dalam pembuatannya. Contohnya film animasi buatan Indonesia yang baru dirilis â€œJanus: Prajurit Terakhirâ€. Terinspirasi seperti dari film sejenisnya: Toy Story dan Bagâ€™s Life, film Janus yang disutradarai oleh Chandra Endroputro ini diharapkan bisa menembus dunia kartun, hal ini dalam bentuk animasi di Indonesia. Dengan begitu tuntutan akan ide-ide pembuatan Kartun bisa terus dilakukan, walaupun dalam pembuatanya masih membutuhkan tangan-tangan luar.</p>
<p class="akst_link"><a rel="nofollow" href="http://fachryan.dagdigdug.com/?p=6&amp;akst_action=share-this"  title="E-mail this, post to del.icio.us, etc." id="akst_link_6" class="akst_share_link">Berbagi</a>
</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fachryan.dagdigdug.com/2008/05/11/komik-karikatur-dan-kartun/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title> &#160;&#160; </title>
		<link>http://fachryan.dagdigdug.com/2008/05/11/5/</link>
		<comments>http://fachryan.dagdigdug.com/2008/05/11/5/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 May 2008 05:11:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fachryan</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fachryan.dagdigdug.com/2008/05/11/5/</guid>
		<description><![CDATA[You can create Manga anyway you can make a mark on a piece of paper. You can go digital, or full blown traditional. Some Manga artists use brushes and india ink, some use mechanical pens and screentone, some use watercolor, some use the edge of credit cards, some use markers. Many people have eschewed traditional [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>You can create Manga anyway you can make a mark on a piece of paper. You can go digital, or full blown traditional. Some Manga artists use brushes and india ink, some use mechanical pens and screentone, some use watercolor, some use the edge of credit cards, some use markers. Many people have eschewed traditional methods all together, and use wacom tablets, along with Photoshop, Illustrator or Painter. </p>
<p>Let&#8217;s take a look at some of the more common tools:</p>
<p>1. Traditional</p>
<p>- Pencil<br />
Hopefully self explanatory. The type of pencil will depend on your style. Mechanical pencil for those who prefer to draw neatly, a softer pencil for those who are more sketchy. Some people like to draw in a blue pencil, as these are not picked up by scanners/photocopiers after inking.</p>
<p>- Ink Pen<br />
If you choose an ink pen over a brush and india ink, you probably want a selection of sizes. I find a straightforward pack of illustrator pens works fine, along side a sharpie or black marker for filling in larger areas.</p>
<p>Try to use water-resistant ink, in case you use to color via watercolours or markers.</p>
<p>- Ink and Brush</p>
<p>You want India Ink, without a doubt. You also need a set of very fine, good quality brushes. I have found brushes that are used for calligraphy tend to be the best.</p>
<p>- Bristol Board</p>
<p>Pretty much the best paper you can use for traditional media. It holds ink and marker well, as well as watercolor. It&#8217;s stiff, smooth, and fairly durable. It comes in a variety of sizes. </p>
<p>- Markers<br />
Copic markers are justly famous. They are also expensive. Sadly, they are pretty much industry standard, and the best quality markers I personally have found.</p>
<p>- Watercolor</p>
<p>You want a good quality set, and some reasonably fine brushes.</p>
<p>- Screentone</p>
<p>This is hard to find these days. I had a set, by Decatone, that I found in an incredibly old artshop. You can also buy them online at: http://www.akadotretail.com/categories.php?cPath=31</p>
<p>Screentone is, in my humble opinion, a right pain in the behind to use. I much prefer using digital screentones. However, many people swear by it, and it is a very traditional Manga tool.</p>
<p>2. Digital</p>
<p>- Drawing Tablet</p>
<p>Wacom drawing tablets tend to be considered the best, and they are the only kind I have ever used. They are good, come in a variety of sizes, and incredibly useful. They are NOT indispensable however. You can create amazing artwork with a mouse.</p>
<p>- Adobe Photoshop</p>
<p>Expensive, but incredibly flexible. GIMP (http://www.gimp.org/) is a free, open-source alternative.</p>
<p>- Adobe Illustrator</p>
<p>A vector program that is very useful for inking your work digitally. Again, expensive. Inkscape (http://www.inkscape.org/) is a free, open-source alternative.</p>
<p>- Corel Painter</p>
<p>A much more artistic program, that is designed to mimic real-media. It can feel more &#8216;natural&#8217; than Photoshop, although there is still a steep learning curve. It is expensive, and so far I haven&#8217;t found a free alternative. You can use Open Canvas (http://www.portalgraphics.net/en/) which is much cheaper, and can be trialled for free. If anybody knows of any other alternatives to Painter, please get in touch!</p>
<p>I hope that guide helped! Good luck with your Manga!</p>
<p class="akst_link"><a rel="nofollow" href="http://fachryan.dagdigdug.com/?p=5&amp;akst_action=share-this"  title="E-mail this, post to del.icio.us, etc." id="akst_link_5" class="akst_share_link">Berbagi</a>
</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fachryan.dagdigdug.com/2008/05/11/5/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>hyyyyyyyyy para komikers indonesia&#8230;&#8230;.ayo bangkit &#160;&#160; </title>
		<link>http://fachryan.dagdigdug.com/2008/05/11/hyyyyyyyyy-para-komikers-indonesiaayo-bangkit/</link>
		<comments>http://fachryan.dagdigdug.com/2008/05/11/hyyyyyyyyy-para-komikers-indonesiaayo-bangkit/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 May 2008 05:05:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fachryan</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fachryan.dagdigdug.com/2008/05/11/hyyyyyyyyy-para-komikers-indonesiaayo-bangkit/</guid>
		<description><![CDATA[saatnya dunia perkomikan kita bangkit^_^,,,,,,,,bagaimana engga&#8217; kita dah terlalu lama dijajah oleh komik jepang yang menjamur dipasaran&#8230;&#8230;..so keluarkan semua imajinasimu tuangkan melalui karya2 yang positif&#8230;&#8230;
Berbagi
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>saatnya dunia perkomikan kita bangkit^_^,,,,,,,,bagaimana engga&#8217; kita dah terlalu lama dijajah oleh komik jepang yang menjamur dipasaran&#8230;&#8230;..so keluarkan semua imajinasimu tuangkan melalui karya2 yang positif&#8230;&#8230;</p>
<p class="akst_link"><a rel="nofollow" href="http://fachryan.dagdigdug.com/?p=4&amp;akst_action=share-this"  title="E-mail this, post to del.icio.us, etc." id="akst_link_4" class="akst_share_link">Berbagi</a>
</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fachryan.dagdigdug.com/2008/05/11/hyyyyyyyyy-para-komikers-indonesiaayo-bangkit/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Selamat Datang di dagdigdug</title>
		<link>http://fachryan.dagdigdug.com/2008/05/09/hello-world/</link>
		<comments>http://fachryan.dagdigdug.com/2008/05/09/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 May 2008 13:56:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fachryan</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Selamat Datang di dagdigdug.com. Ini posting pertamamu , Ekspresikan perasaanmu. Ngebloglah sekarang juga !
Berbagi
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Selamat Datang di <a href="http://dagdigdug.com/">dagdigdug.com</a>. Ini posting pertamamu , Ekspresikan perasaanmu. Ngebloglah sekarang juga !</p>
<p class="akst_link"><a rel="nofollow" href="http://fachryan.dagdigdug.com/?p=1&amp;akst_action=share-this"  title="E-mail this, post to del.icio.us, etc." id="akst_link_1" class="akst_share_link">Berbagi</a>
</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fachryan.dagdigdug.com/2008/05/09/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>

